Stigmatisati dan Diskriminasi HIV/AIDS

Published March 18, 2012 by mingmega

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai stigma yang terkait dengan HIV/AIDS peneliti akan terlebih dahulu membahas pengertian stigma itu sendiri. Stigma merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yang merujuk pada sebauh tato yang dikenakan pada tubuh seseorang dikarenakan ia telah melakukan beberapa tindak kejahatan. Tanda tersebut menunjukkan juga adanya penurunan dan rusaknya moral seseorang, sehingga patut untuk dijauhi. Stigmatisasi ini biasanya dikenakan untuk mendiskreditkan seseorang berdasarkan agama, ras, dan gender. Stigma ini ditujukan pada hal-hal yang memalukan yang dimilliki oleh seseorang. Pada awalnya stigma juga tidak dikaitkan dengan penyakit yang diidap ataupun perilaku yang dimiliki, namun semenjak AIDS dan HIV ditemukan, stigmatisasi juga dikenakan kepada para ODHA.

Menurut Goffman, stigma dibagi menjadi tiga tipe. Tipe pertama yakni stigma terhadap kecacatan pada tubuh, yakni stigma dikenalkan karena adanya kecacatan fisik pada tubuh. Stigma yang kedua yakni stigma terhadap buruknya perilaku seseorang. Stigma ini biasanya dikenakan kepada orang-orang yangn dipenjara, alkoholik, dan orang yang memiliki kesehatan mental yang buruk. Stigma ketiga disebut dengan tribal stigma. Stigma ini dikenakan berdasarkan ke dalam kelompok mana seseorang memiliki afiliasi. Sebagai contoh, seseorang berafiliasi kepada suatu kelompok berdasarkan ras, agama, orientasi seksual, dan etnis.

Ketiga stigma dimuka memiliki perbedaan dengan stigma HIV/AIDS, karena stigma ini terkait pada suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan berujung pada kematian. Stigma timbul karena adanya rasa takut tertular, dan seiring pemahaman yang berkembang tentang penyakit ini, stigma beergeser pada perilaku high-risk yang dapat menyebabkan seseorang terjangkiti virus tersebut dan juga dipandang tidak bermoral, sehingga para ODHA dirasa patut untuk menderita penyakit mematikan ini (Stein, 2003).

Pada tahun 1987 Jonathan Mann, salah satu direktur dari WHO untuk program AIDS, menyebutkan bahwa stigma HIV/AIDS diperkirakan akan menjadi epidemic yang paling besar dalam beberapa tahun mendatang. Dua epidemik lain yang juga disebutkan yakni epidemik infeksi HIV dan epidemic AIDS itu sendiri (Mann, 1987; dalam Stein, 2003).

Ada enam dimensi stigma menurut Jones (dalam Breitkopf, 2004), yakni :

1. Concealability, yakni sampai sejauh mana suatu kondisi dapat disembunyikan atau tidak tampak oleh orang lain.

2. Course, menjelaskan bagaimana kondisi terstigmatisasi berubah dari waktu ke waktu.

3. Strains, menjelaskan bagaimana hubungan interpersonal seseorang menjadi tegang.

4. Aesthetic Qualities, menjelaskan bagaimana penampilan seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi stigmatisasi.

5. Cause, menjelaskan apakah seseorang mengalami stigmatisasi karena bawaan dari lahir atau didapatkan.

6. Peril, menjelaskan kemungkinan keberbahayaan pada orang lain terkait dengan kondisi terstigmatisasi.

Kuat atau lemah stigma AIDS tergantung dari master status. Menurut Goffman, 1963; dalam Swendeman dkk, 2006), master status merupakan status yang paling berpotensi untuk dikenai stigma oleh orang lain. Sebagai contoh pengguna narkoba jarum suntik (penasun) yang telah ODHA, memiliki rasa ketakutan yang lebih tinggi terhadap stigma karena status dirinya sebagai penasun lebih mudah diketahui, dibandingkan stigma yang akan dikenakan kepada individu tersebut terkait HIV/AIDS. Dengan demikian para subjek memiliki perceived stigma yang rendah terkait dengan HIV/AIDS. Penjelasan alternatif lainnya, penasun mungkin mengembangkan suatu mekanisme coping terkait dengan identitas mereka, yang kemudian diterjemahkan ke dalam kemampuan mereka dalam mengatasi enacted stigma dan mengurangi proses internalisasi stigma HIV (Swendeman dkk., 2006).

Stigma makin intensif dikenakan kepada seseorang jika kondisi yang dialami seseorang harus segera ditangani. Selain itu intensitas stigma juga makin meningkat ketika stigma disebarkan ke orang lain, stigma juga terkait dengan penyakit yang berbahaya atau pun hingga menyebabakan kematian, atau ketika manifestasi dari stigma dipandang sebagai seseuatu yang buruk, menimbulkan rasa jijik atau menyedihkan.

Salah satu penghalang utama untuk menerapkan strategi pencegahan penularan HIV secara luas yakni adanya stigma yang terkait dengan HIV. Dengan demikian individu akan menyangkal perilaku beresiko yang dimiliki, menolak utuk tes HIV, menunda pengobatan, tidak mengungkapkan status HIV, dan tidak mencari dukungan dari masyarakat. Lebih dari sepertiga orang dewasa di Amerika melaporkan bahwa perhatian terhadap stigma AIDS membuat mereka terhalang untuk melakukan tes HIV di kemudian hari.

Diskriminasi yaitu sejumlah perilaku yang membedakan seseorang berdasarkan keanggotaan dari suatu kelompok sosial. Diskriminasi terdiri atas tiga bentuk yaitu, blatant, subtle, dan covert, misalnya dlam interaksi personal, institusional, organisasional dan budaya. Berikut ini merupakan penjelasan dari ketiga bentuk diskriminasi :

1. Blatant Discrimination, yaitu sejumlah perilaku yang tidak menyamakan dan bersifat berbahaya, yang ditujukan kepada seseorang. Tipe ini bersifat intensional, relatif dapat dilihat, dan dapat dengan mudah didokumentasikan. Sebagai contoh, seorang pria berkulit hitam, diikat dengan rantai di belakang truk dan ditarik sepanjang jalan di Texas hingga dia meninggal.

2. Subtle Discrimination, merupakan sejumlah perilaku yang mendeskreditkan dan bersifat berbahaya. Tipe ini bersifat kurang nyata dan terlihat dibandingkan dengan tipe blatant discrimination. Hal ini sering menjadi bukan perhatian karena orang telah menginternalisasi diskriminasi ini sebagai sesuatu yang normal, natural ataupun hal yang biasa. Subtle discrimination lebih sulit untuk didokumentasikan, dan tidak bersifat intensional. Walaupun demikian, kemungkinan besar diskriminasi ini lebih sering terjadi. Sebagai contoh, seorang guru tidak memberikan perhatian kepada bakat anak kecil berkulit hitam di bidang seni. Anak ini walaupun masih duduk di kelas tiga, tapi dia dapat menghasilkan karya-karya yang orisisnil. Guru tersebut menganggap bahwa bakat tersebut tidaklah mungkin dimiliki oleh anak itu. Anak ini memiliki masalah membaca yang juga dimiliki oleh anak-anak kulit hitam lainnya di Amerika. Karakteristik inilah yang justru lebih terlihat dan disadari dari anak tersebut dibandingkan bakatnya dibidang seni.

3. Covert Discrimination, sejumlah perilaku yang tidak menyamakan dan bersifat berbahaya, yang biasanya disembunyikan, bertujuan dan seringnya dimotivasi oleh keinginan jahat. Perilaku ini sangat sulit untuk didokumentasikan. Sebagai contoh, suatu perusahaan yang didalam peraturannya tidak menginginkan adanya diskriminasi, terjadi praktek membebani segolongan orang tertentu berdasarkan ras, dengan menyuruh menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan orang lain namun harus diselesaikan dalam tenggang waktu yang sama.

Sumber stigma dan diskriminasi berasal dari social care system. Social care system terdiri dari dua hal yakni informal system dan formal system. Informal system terdiri atas konselor atau dokter (individu yang secara langsung menangani ODHA), lembaga swadaya masyarakat (LSM), klinik rumah sakit, dan departemen kesehatan. Disisi lain, social care system juga merupakan sumber untuk mendapatkan dukungan sosial.

Dari serangkaian teori yang telah dijabarkan, peneliti menyimpulkan bahwa stigma dan diskriminasi merupakan dua hal yang terkait satu sama lain. Kedua hal tersebut difungsikan untuk memberikan cap dan perlakuan negatif pada orang-orang tertentu, salah satunya yakni pada orang yang terinfeksi HIV. Stigma yang diberikan pada ODHA umumnya diasosiasikan dengan sejumlah perilaku high-risk dan juga bertentangan norma masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: